Sebaiknya pemerintah masih harus mempertimbangkan lagi mengenai hal tersebut,sistem yang belum merata dan ketidak jujuran pelaksanaan UN masih harus di perbaiki lagi guna menunjang program yang dilaksanakan pemerintah ini.Jika semua telah terpenuhi,tidak ada salah nya jika pemerintah bisa melaksankan program tersebut,tetapi jika pada saat program ini berjalan sedangkan standarisasi tidak merata dan masih banyak terjadi kecurangan,jangan harap program ini bisa bertahan lama.Untuk itu pemerintah harus mempersiapkan semuanya terlebih dahulu sebelum ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi demi memajukan pendidikan di Indonesia ini.
Jumat, 13 Juli 2012
UN sebagai syarat masuk PTN
Sebelumnya,UN yang dinilai sebagai ajang hidup dan matinya seorang siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi saja sudah banyak pertentangan,di tambah lagi sekarang UN bakal di jadikan syarat masuk PTN.Persoalan ini yang masih menjadi bahan omongan bagi kaum pendidik dan yang terdidik.Sistem penilaian ujian nasional dengan ujian masuk PTN masih tidak sebanding,ukuran kemampuan yang dinilai pun berbeda.Standarisasi nilai di indonesia saja belum setara.
Prostitusi,makanan kaum urban?
Kaum urban yang di maksudkan disini adalah orang yang berpindah dari desa ke kota,contoh daerah yang sering di jadikan tempat tinggal bagi kaum urban yaitu jakarta,banyaknya penduduk di jakarta salah satu nya karna banyak orang yang melakukan urbanisasi ke jakrta untuk mencari nafkah.Contohnya salah seorang warga jakarta pulang ke kampung halamannya dan kembali lagi ke jakarta dengan membawa sanak saudara atau teman dekat nya untuk ikut bekerja disana,atau bisa karena keinginan dari warga yang berada di desa untuk tinggal di jakarta dengan tujuan untuk bekerja demi keluarga di kampungnya.
Mengenai prostitusi,tentu sudah tidak asing lagi di benak pikiran kita,yaitu penjualan jasa seksual atau transaksi seksual yang di lakukan orang tertentu untuk memenuhi hasrat birahi nya.Bahkan ada tempat prostitusi yang telah di legalkan,sehingga orang yang ingin bertransaksi pu tidak perlu khawatir dengan aparat keamanan.Orang yang ketika tidak bisa pulang ke rumah di karenakan banyak pekerjaan,sedangkan nafsu seseorang tersebut sedang tinggi-tingginya,bisa saja seseorang tersebut melakukan transaksi prostitusi tersebut guna memenuhi kebutuhan biologisnya.Lalu apa hubunganya dengan kaum urban?
Kaum urban yang di maksudkan disini adalah seperti yang saya katakan diatas.Orang yang datang dari kampung dan bekerja di jakarta sedangkan istri nya masih tinggal di kampung,bisa saja orang tersebut melakukan hal seperti itu guna memenuhi hasratyang ia pendam untuk melakukan hubungan seksual.Tetapi tidak semua kaum urban melakukan hal seperti itu.
Mengenai prostitusi,tentu sudah tidak asing lagi di benak pikiran kita,yaitu penjualan jasa seksual atau transaksi seksual yang di lakukan orang tertentu untuk memenuhi hasrat birahi nya.Bahkan ada tempat prostitusi yang telah di legalkan,sehingga orang yang ingin bertransaksi pu tidak perlu khawatir dengan aparat keamanan.Orang yang ketika tidak bisa pulang ke rumah di karenakan banyak pekerjaan,sedangkan nafsu seseorang tersebut sedang tinggi-tingginya,bisa saja seseorang tersebut melakukan transaksi prostitusi tersebut guna memenuhi kebutuhan biologisnya.Lalu apa hubunganya dengan kaum urban?
Kaum urban yang di maksudkan disini adalah seperti yang saya katakan diatas.Orang yang datang dari kampung dan bekerja di jakarta sedangkan istri nya masih tinggal di kampung,bisa saja orang tersebut melakukan hal seperti itu guna memenuhi hasratyang ia pendam untuk melakukan hubungan seksual.Tetapi tidak semua kaum urban melakukan hal seperti itu.
Rabu, 29 Februari 2012
Film iran yang menghanyutkan israel
Dengan mata menyorotkan rasa frustrasi, Simin (dipe rankan Leila
Hatami) duduk gelisah di hadapan hakim pengadilan agama Kota Teheran.
Nader (Peyman Maadi), suami Simin, duduk di bangku sebelah. Ia
enggan menatap hakim dan istrinya. Pria berjanggut ini memilih menoleh ke
samping sambil pasang muka kesal.Simin: Dia sebenarnya suami yang baik Hakim:
Lalu, kenapa kamu ingin bercerai?
Simin: Dia menolak pergi bersama saya Nader: Ada ayahku, Simin!
Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja! Simin: Tapi, ayahnya kena penyakit
alzheimer. Apakah dia masih kenal kamu sebagai anaknya? Nader: Tapi aku tetap
anaknya, Simin! Simin: Dia menolak menemaniku pergi, Pak Hakim. Lalu aku harus
bagaimana?
Hakim: Tidak ada! Kembali ke kehidupan kalian seperti semula!
Itulah cuplikan film Iran berjudul A Separation (judul aslinya: Jodaeiye Nader
az Simin) yang baru saja merebut Piala Oscar kategori Film Asing Terbaik 2012.
Film kedua Iran yang menyabet Oscar setelah film anakanak Children of Heaven
pada 1999.
Tapi, kali ini pertarungan antarfilm asing sedikit politis karena
A Separation mengalahkan film Israel Footnote dalam kategori yang sama.
A Separation adalah film dengan kisah sederhana. Cerita konflik
keluarga yang bisa dialami semua keluarga, tak cuma di Iran. Simin ingin pindah
ke luar negeri. Ia mau putri semata wayang mereka mendapatkan kehidupan yang
lebih baik ketimbang di Iran. Nader menolaknya.
Penghalang itu adalah Ali-Asghar Shahbazi, yang memerankan ayah
Nader yang jompo dan lupa ingatan.
Nader ingin merawat ayahnya.
Simin berkeras pergi, ia menuntut cerai. Tapi, hakim pengadilan
menolak permintaannya dengan tegas.
Merasa tak mendapat dukungan dari mana-mana, Simin frustrasi. Ia
pulang ke rumah orang tuanya. Sampai di sini, konflik ternyata melebar ke
mana-mana. Apalagi ketika Nader menyewa pengasuh yang hamil untuk menjaga
ayahnya.
Asghar Farhadi sukses menyutradarai film `sederhana', tapi
mengaduk-aduk emosi penonton ini. Maka, bukan cuma Piala Oscar yang mengganjar
A Separation, tapi juga 44 penghargaan di festival film internasional lainnya.
Mulai dari Amerika hingga Asia.
Film ini dibuat dengan biaya ‘hanya’ 800 ribu dolar AS. Tapi,
kisahnya membuat jutaan penonton dari seluruh dunia duduk termenung di bangku
bioskop. Termasuk para penonton dari Israel, negara yang terkenal sebagai musuh
bebuyutan Iran.
Pemandangan jarang terjadi di sejumlah bioskop di Yerusalem.
Ratusan warga Israel berjubel antre menda patkan tiket film ini. Mereka rela
menghabiskan dua jam agar hanyut ke dalam kisah keluarga di Teheran. Tercatat
sudah 30 ribu warga Israel yang menonton film ini.
Omer Dilian, manajer bioskop Lev Smadar di Yerusalem, mengatakan
film A Separation seakan tak kehabisan penonton. Kalau film lain biasanya sepi
pada hari kerja, A Separation tetap kebanjiran penonton. “Ratusan orang
menonton film ini pada hari kerja,” kata Omer.
CEO Lev Cinemas, Guy Shani, mengatakan imbas berita negatif Iran
yang heboh selama beberapa bulan terakhir ternyata ikut berperan.
Warga Israel ingin melihat seperti apa Iran sebenarnya dalam film
ini. Bioskop Lev Cinemas pun penuh sesak dengan penonton A Separation Tanggapan
penonton pun baik. Rina Brick (70 tahun) mengaku kaget dengan penggambaran
birokrat Iran yang humanis di sepanjang film. “Kami selalu mengira Iran adalah
negara yang tidak demokratis. Film ini meng ubah pandangan saya. Hakim, polisi,
semuanya yang ada di film itu, mereka menggambarkan kehidupan layaknya di negara
Barat,” kata Rina.
Tanggapan positif juga datang dari mantan penduduk Teheran. Rivka
Cohen (78) hengkang dari Teheran ketika berumur 15 tahun. Sama de ngan Rina,
Rivka juga terka get-kaget menonton film A Separation. Iran dalam film itu,
katanya, sungguh berbeda dengan penggambaran Iran
selama ini, seperti perempuan dengan jubah hitam, cadar, agama
yang konservatif. “Saya sangat terkejut dengan kehidupan keluarga di Teheran.
Mereka semua punya kulkas dan mesin cuci,“ kata Rivka.Yair Raveh,
kritikus film Israel dari majalah Pnai Plus, mengatakan A Separation adalah
film dengan bintang yang sangat baik, naskah film yang cerdas, dan alur cerita
yang mengalir rapi. “Tapi, yang paling penting adalah Anda tidak berpikir
tentang bom nuklir atau ada diktator yang mengancam dunia (Ahmadinejad,
presiden Iran --Red). Kita melihat bagaimana kehidupan di Iran. Melihat warga
Iran naik mobil, nonton film di bioskop.
Mereka sebenarnya sama seperti kita,“ kata Raveh.
Pengamat politik dari Hebrew University, Yerusalem, Moshe Amirav,
merasa hal kontras usai menonton film A Separation. “Kami mengeluelukan film
ini saat menontonnya. Tapi, begitu keluar bioskop, kami tetap berpikir Iran
ingin Israel musnah dari muka bumi.“
Di Iran warga merayakan kemenangan A Separation di ajang Oscar.
Mereka menonton siaran Oscar lewat internet dan menyebarkan kabar kemenangan ke
seantero penjuru negeri lewat SMS. Terutama ketika tahu A Separation
mengalahkan film Israel, Footnote. Televisi Pemerintah Iran mengatakan
kemenangan A Separation adalah kemenangan Iran atas Israel. “Inilah kesuksesan
industri film Iran mengalahkan film dari negara rezim Zionis,“ kata siaran
televisi pemerintah.
Asghar Farhadi, sutradara A Separation, dalam pidato kemenangannya
di Oscar mengatakan, lewat film ini ia ingin dunia melihat Iran secara lengkap.
Tak sekadar konflik Timur Tengah dan nuklir.
“Ketika berita perang, intimidasi, dan agresi selalu dibicarakan
oleh para politikus, di sini Iran bergaung lewat budaya. Lewat kekayaan
kebudayaannya yang lama dibiarkan berdebu oleh para politikus,“ kata Asghar
Selasa, 28 Februari 2012
Sekilas
tentang Behaviorisme
Behaviorisme
merupakan salah satu aliran psikologi yang meyakini bahwa untuk mengkaji
perilaku individu harus dilakukan terhadap setiap aktivitas individu yang dapat
diamati, bukan pada peristiwa hipotetis yang terjadi dalam diri individu.Oleh
karena itu, penganut aliran behaviorisme menolak kerasadanya aspek-aspek
kesadaran atau mentalitas dalam individu.Pandangan ini sebetulnya sudah
berlangsung lama sejak jaman Yunani Kuno, ketika psikologi masih dianggap
bagian dari kajian filsafat. Namun kelahiran behaviorisme sebagai aliran
psikologi formal diawali oleh J.B. Watson pada tahun 1913 yang menganggap
psikologi sebagai bagian dari ilmu kealaman yang eksperimental dan obyektif,
oleh sebab itu psikologi harus menggunakan metode empiris, seperti : observasi,
conditioning, testing, dan verbal reports.
Teori utama dari Watson yaitu konsep
stimulus dan respons (S-R) dalam psikologi. Stimulus adalah segala sesuatu
obyek yang bersumber dari lingkungan. Sedangkan respon adalah segala aktivitas
sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat
tinggi. Watson tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu
perilaku dan perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan
sangat penting. Pemikiran Watson menjadi dasar bagi para penganut behaviorisme
berikutnya.
Teori-teori yang dikembangkan oleh
kelompok behaviorisme terutama banyak dihasilkan melalui berbagai eksperimen
terhadap binatang. Berikut ini disajikan beberapa teori penting yang dihasilkan
oleh kelompok behaviorisme:
1. Connectionism ( S-R
Bond) menurut Thorndike.
Dari eksperimen yang
dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukumbelajar,
diantaranya:
§ Law of Effect; artinya
bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan
Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek
yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi
antara Stimulus- Respons.
§ Law of Readiness;
artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal
dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini
menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak
berbuat sesuatu.
§ Law of Exercise;
artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah
erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau
tidak dilatih.
2. Classical
Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang
dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar,
diantaranya :
§ Law of Respondent
Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus
dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer),
maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
§ Law of Respondent
Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah
diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa
menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
3. Operant Conditioning menurut
B.F. Skinner
Dari eksperimen yang
dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati
menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
§ Law of operant
conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat,
maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
§ Law of operant
extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses
conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku
tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah,
2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku
yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant
conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan
oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang
meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak
sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical
conditioning.
4. Social Learning menurut
Albert Bandura
Teori belajar sosial
atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang
relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda
dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku
individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan
juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan
skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini,
bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi
melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori
ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan
punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang
perlu dilakukan.
Memahami Emosi Individu
1. Pengertian Emosi
Hingga
saat ini para ahli tampaknya masih beragam dalam memberikan rumusan tentang
emosi dengan orientasi teoritis yang bervariasi pula. Kita mencatat beberapa
beberapa teori tentang emosi dengan sudut pandang yang berbeda, diantaranya:
teori Somatic dari William James, teori Cannon-Bard, teori Kogntif
Singer-Schachter, teori neurobiological dan teori evolusioner Darwin. Perbedaan
kerangka teori inilah yang menyebabkan kesulitan tersendiri untuk merumuskan
tentang emosi secara tunggal dan universal.
Terdapat sekitar 550 sampai 600 kata dalam bahasa Inggris yang memiliki
makna yang sama dengan kata emosi, baik itu dalam bentuk kata kerja, kata
benda, kata sifat, dan kata keterangan (Averil, 1975; Johnson Laird &
Oatley, 1989; Storm & Storm, 1987). Meski tidak didapati rumusan emosi yang
bersifat tunggal dan universal, tetapi tampaknya masih bisa ditemukan
persesuaian umum bahwa keadaan emosional merupakan satu reaksi kompleks yang
berkaitan dengan kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam yang
dibarengi dengan perasaan kuat atau disertai dengan keadaan afektif
(J.P.Chaplin. 2005). English and English (Syamsu Yusuf, 2003) menyebut emosi
ini sebagai “A complex feeling state accompanied by characteristic motor and
grandular activities”. Menurut Abin Syamsuddin Makmun (2003) bahwa aspek
emosional dari suatu perilaku, pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel,
yaitu: (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus); (2)
perubahan–perubahan fisiologis yang terjadi pada individu; dan (3) pola
sambutan. Dalam situasi tertentu, pola sambutan yang berkaitan dengan emosi
seringkali organisasinya bersifat kacau dan mengganggu, kehilangan arah dan
tujuan. Berkenaan dengan perubahan jasmaniah yang terjadi terkait dengan emosi
individu, Syamsu Yusuf (2003) memberikan penjelasan sebagaimana tampak
dalam tabel berikut ini:
|
Terpesona
|
Reaksi
elektris pada kulit
|
|
Marah
|
Peredaran
darah bertambah cepat
|
|
Terkejut
|
Denyut
jantung bertambah cepat
|
|
Kecewa
|
Bernafas
panjang
|
|
Sakit
marah
|
Pupil
mata membesar
|
|
Cemas
|
Air
liur mengering
|
|
Takut
|
Berdiri
bulu roma
|
|
Tegang
|
Terganggu
pencernaan, otot tegang dan bergetar.
|
Selanjutnya, dia mengemukakan pula tentang ciri-ciri emosi, yaitu: (1)
lebih bersifat subyektif daripada peristiwa psikologis lainnnya seperti
pengamatan dan berfikir; (2) bersifat fluktuatif atau tidak tetap, dan (3)
banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera dan subyektif.
Lebih jauh, Nana Syaodih Sukmadinata (2005) mengemukakan empat ciri emosi,
yaitu:
1. Pengalaman emosional
bersifat pribadi dan subyektif. Pengalaman seseorang memegang peranan penting
dalam pertumbuhan rasa takut, sayang dan jenis-jenis emosi lainnya. Pengalaman
emosional ini kadang–kadang berlangsung tanpa disadari dan tidak dimengerti
oleh yang bersangkutan kenapa ia merasa takut pada sesuatu yang sesungguhnya
tidak perlu ditakuti. Lebih bersifat subyektif dari peristiwa psikologis
lainnya, seperti pengamatan dan berfikir (Syamsu Yusuf, 2003)
2. Adanya perubahan aspek
jasmaniah. Pada waktu individu menghayati suatu emosi, maka terjadi perubahan
pada aspek jasmaniah. Perubahan-perubahan tersebut tidak selalu terjadi
serempak, mungkin yang satu mengikuti yang lainnya. Seseorang jika marah maka
perubahan yang paling kuat terjadi debar jantungnya, sedang yang lain adalah
pada pernafasannya, dan sebagainya.
3. Emosi diekspresikan
dalam perilaku. Emosi yang dihayati oleh seseorang diekspresikan dalam
perilakunya, terutama dalam ekspresi roman muka dan suara/bahasa. Ekspresi
emosi ini juga dipengaruhi oleh pengalaman, belajar dan kematangan.
4. Emosi sebagai motif.
Motif merupakan suatu tenaga yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan.
Demikian juga dengan emosi, dapat mendorong sesuatu kegiatan, kendati demikian
diantara keduanya merupakan konsep yang berbeda. Motif atau dorongan
pemunculannya berlangsung secara siklik, bergantung pada adanya perubahan dalam
irama psikologis, sedangkan emosi tampaknya lebih bergantung pada situasi
merangsang dan arti signifikansi personalnya bagi individu Menurut J.P. Chaplin
(2005), motif lebih berkenaan pola habitual yang otomatis dari pemuasan,
sementara reaksi emosional tidak memiliki pola atau cara-cara kebiasaan reaktif
yang siap pakai.
Di lain pihak, Fehr & Russel (1984)
Shaver, Schwarts, Kirson & O’Connor (1987) menyebutkan, emosi memiliki
tiga bentuk, yaitu passivity, intentionality, dan subjectivity.Passivity berasal
dari kata Yunani kuno abad ke-18 yaitu “pathe”, artinya sama dengan
“nafsu” atau “hasrat”. Makna dasar dari passivity adalah
berubah secara drastis, terutama berubah menjadi sangat buruk. Kata “pasif”
seringkali digunakan dalam menerangkan kata-kata emosi. Sehingga kata-kata
semacam “jatuh cinta”, “terjebak amarah” dikonotasikan sebagai tindakan pasif.
Artinya, emosi hanyalah tindakan refleks sebagai hasil pengalaman sensoris
sederhana, yang berada di bawah kontrol pribadi. Padahal sejatinya, manusia
hidup memiliki kontrol yang lebih tidak sekadar emosinya, sehingga emosi tidak
sekadar pasif. Intentionality (kesengajaan) masih sering
dikaitkan dengan “nafsu”, tapi bisa bermakna yang sama sekali berbeda dengan passivity jika
diterapkan dalam pengertian sehari-hari. Intentionality maksudnya,
bahwa emosi terjadi karena suatu kesengajaan. Misalnya, orang tidak marah
secara tiba-tiba, tanpa sebab musabab tetapi selalu ada sesuatu yang membuat
dia marah, atau takut terhadap sesuatu, senang terhadap sesuatu, dan
seterusnya. Sesuatu itu adalah objek kesengajaan dari emosi, sebagai hasil dari
evaluasi dari sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Subjectivity.Biasanya,
emosi selalu dikaitkan dengan perbuatan subjektif sebagai akibat dari sebuah
pengalaman diri terhadap objek eksternal. Meski demikian, emosi juga bersifat
objektif, karena bisa dinilai sebagai baik atau buruk; bermanfaat atau
berbahaya, bergantung kepada penilaian pribadi terhadap emosi tersebut.
Perasaan dan emosi pada dasarnya
merupakan dua konsep yang berbeda tetapi tidak bisa dilepaskan. Perasaan selalu
saja menyertai dan menjadi bagian dari emosi. Perasaan (feeling) merupakan
pengalaman yang disadari yang diaktifkan oleh rangsangan dari eksternal maupun
internal (keadaan jasmaniah) yang cenderung lebih bersifat wajar dan sederhana.
Demikian pula, emosi sebagai keadaan yang terangsang dari organisme namun
sifatnya lebih intens dan mendalam dari perasaan. Menurut Nana Syaodih
Sukadinata (2005), perasaan menunjukkan suasana batin yang lebih tenang,
tersembunyi dan tertutup ibarat riak air atau hembusan angin sepoy-sepoy
sedangkan emosi menggambarkan suasana batin yang lebih dinamis, bergejolak, dan
terbuka, ibarat air yang bergolak atau angin topan, karena menyangkut
ekspresi-ekspresi jasmaniah yang bisa diamati. Contoh: orang merasa marah atas
kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, dalam konteks ini, marah merupakan perasaan
yang wajar, tetapi jika perasaan marahnya menjadi intens dalam bentuk angkara
murka yang tidak terkendali maka perasaan marah tersebut telah beralih menjadi
emosi. Orang merasa sedih karena ditinggal kekasihnya, tetapi jika kesedihannya
diekspresikan secara berlebihan, misalnya dengan selalu diratapi dan bermuram
durja, maka rasa sedih itu sebagai bentuk emosinya.
Perasaan dan emosi seseorang bersifat
subyektif dan temporer yang muncul dari suatu kebiasaan yang diperoleh selama
masa perkembangannya melalui pengalaman dari orang-orang dan lingkungannya.
Perasaan dan emosi seseorang membentuk suatu garis kontinum yang bergerak dari
ujung yang yang paling postif sampai dengan paling negatif, seperti:
senang-tidak senang (pleasant-unpleasent), suka-tidak suka (like-dislike),
tegang-lega (straining-relaxing), terangsang-tidak terangsang (exciting-subduing).
Menurut Syamsu Yusuf (2003) emosi
individu dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu: emosi sensoris
dan emosi psikis. Emosi sensoris yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan
dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan
lapar. Emosi psikis yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan, seperti
: (1) perasaan intelektual, yang berhubungan dengan ruang lingkup kebenaran;
(2) perasaan sosial, yaitu perasaan yang terkait dengan hubungan dengan orang
lain, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok; (3) perasaan susila, yaitu
perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral);
(4) perasaan keindahan, yaitu perasaan yang berhubungan dengan keindahan akan
sesuatu, baik yang bersifat kebendaan maupun kerohanian; dan (5) perasaan
ke-Tuhan-an, sebagai fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (Homo Divinas) dan
makhluk beragama (Homo Religious)
Sementara itu, Nana Syaodih Sukadinata
(2005) mengetengahkan tentang macam-macamemosi
individu, diantaranya: (1) takut, cemas dan khawatir. Ketiga
macam emosi ini berkenaan dengan rasa terancam oleh sesuatu; (2) marah dan
permusuhan, yang merupakan suatu perayaan yang dihayati seseorang atau
sekelompok orang dengan kecenderungan untuk menyerang; (3) rasa bersalah dan
duka, yang merupakan emosi akibat dari kegagalan atau kesalahan dalam melakukan
perbuatan yang berkenaan norma; dan (4) cinta, yaitu jenis emosi yang menurut
Erich Fromm berkembang dari kesadaran manusia akan keterpisahannya dengan yang
lain, dan kebutuhan untuk mengatasi kecemasan karena keterpisahan tersebut.
Setiap orang memiliki pola emosional masing-masing yang berupa ciri-ciri
atau karakteristik dari reaksi-reaksi perilakunya. Ada individu yang mampu
menampilkan emosinya secara stabil yang ditunjukkan dengan kemampuan untuk
mengontrol emosinya secara baik dan memiliki suasana hati yang tidak terlau
variatif dan fluktuatif. Sebaliknya, ada pula individu yang kurang atau bahkan
sama sekali tidak memiliki stabilitas emosi, biasanya cenderung menunjukkan
perubahan emosi yang cepat dan tidak dapat diduga-duga.
Tingkat kematangan emosi (emotional
maturity) seseorang dapat ditunjukkan melalui reaksi dan kontrol
emosinya yang baik dan pantas, sesuai dengan usianya. Adalah hal yang wajar
bagi seorang anak kecil usia 3-5 tahun, apabila dia merasa kecewa ketika tidak
dipenuhi keinginannya untuk dibelikan permen coklat atau mainan anak-anak dan
kemudian mengekspresikan emosinya dengan cara menangis dan berguling-guling di
lantai. Tetapi, akan menjadi hal yang berbeda, jika hal itu terjadi pada
seorang remaja atau dewasa dan jika hal itu benar-benar terjadi maka jelas dia
belum menunjukkan kematangan emosinya.
Sekilas telah dikemukakan di atas bahwa
pola sambutan emosional seringkali organisasinya kacau-balau dan hal ini sangat
tampak pada mereka yang mengalami gangguan kekacauan emosional (emotional
disorder) yaitu sejenis penyakit mental dimana reaksi emosionalnya tidak
tepat dan kronis serta sangat menonjol atau menguasai kepribadian yang
bersangkutan. Untuk kasus-kasus kekacauan emosi yang sangat ekstrem biasanya
diperlukan terapi tersendiri dengan bantuan ahli.
Karena sifatnya yang dinamis, bisa dipelajari dan lebih mudah diamati, maka
para ahli dan peneliti psikologi cenderung lebih tertarik untuk mengkaji
tentang emosi daripada unsur-unsur perasaan. Daniel Goleman salah seorang ahli
psikologi yang banyak menggeluti tentang emosi yang kemudian melahirkan konsep
Kecerdasan Emosi, yang merujuk pada kemampuan mengenali perasaan diri sendiri
dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan
mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam berhubungan dengan
orang lain.
Sejalan dengan usianya, emosi seorang individu pun akan terus mengalami
perkembangan, mulai dari. Dengan mengutip pendapat Bridges, Loree (Abin
Syamsuddin Makmun, 2003) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi
emosional pada anak-anak, sebagai berikut
|
Usia
|
Ciri-Ciri
|
|
Pada saat dilahirkan
|
Bayi
dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi,
cahaya, temperatur)
|
|
0 – 3 bln
|
Kesenangan
dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya
|
|
3 – 6 bln
|
Ketidaksenangan
berdiferensiasi ke dalam kemarahan, kebencian dan ketakutan
|
|
9 – 12 bln
|
Kegembiraan
berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang
|
|
18 bulan pertama
|
Kecemburuan
mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang
|
|
2 th
|
Kenikmatan
dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan
|
|
5 th
|
Ketidaksenangan
berdiferensiasi di dalam rasa malu, cemas dan kecewa sedangkan kesenangan
berdiferensiasi ke dalam harapan dan kasih sayang
|
2. Memelihara Emosi
Emosi sangat memegang peranan penting dalam kehidupan individu, akan
memberi warna kepada kepribadian, aktivitas serta penampilannya dan juga akan
mempengaruhi kesejahteraan dan kesehatan mentalnya. Agar kesejahteraan dan
kesehatan mental ini tetap terjaga, maka individu perlu melakukan beberapa
usaha untuk memelihara emosi-emosinya yang konstruktif. Dengan merujuk pada
pemikiran James C. Coleman (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005), di bawah ini
dikemukakan beberapa cara untuk memelihara emosi yang konstruktif.
1. Bangkitkan rasa humor.
Yang dimaksud rasa humor disini adalah rasa senang, rasa gembira, rasa
optimisme. Seseorang yang memiliki rasa humor tidak akan mudah putus asa, ia
akan bisa tertawa meskipun sedang menghadapi kesulitan.
2. Peliharalah selalu
emosi-emosi yang positif, jauhkanlah emosi negatif. Dengan selalu mengusahakan
munculnya emosi positif, maka sedikit sekali kemungkinan individu akan
mengalami emosi negatif. Kalaupun ia menghayati emosi negatif, tetapi
diusahakan yang intensitasnya rendah, sehingga masih bernilai positif.
3. Senatiasa berorientasi
kepada kenyataan. Kehidupan individu memiliki titik tolak dan sasaran yang akan
dicapai. Agar tidak bersifat negatif, sebaiknya individu selalu bertolak dari
kenyataan, apa yang dimiliki dan bisa dikerjakan, dan ditujukan kepada pencapaian
sesuatu tujuan yang nyata juga.
4. Kurangi dan hilangkan
emosi yang negatif. Apabila individu telah terlanjur menghadapi emosi yang
negatif, segeralah berupaya untuk mengurangi dan menghilangkan emosi-emosi
tersebut. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui: pemahaman akan apa yang
menimbulkan emosi tersebut, pengembangan pola-pola tindakan atau respons
emosional, mengadakan pencurahan perasaan, dan pengikisan akan emosi-emosi yang
kuat.
Sumber:
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi
Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
Calvin S. Hall & Gardner Lidzey
(editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis). Jakarta
: Kanisius
Chaplin, J.P. (terj. Kartini
Kartono).2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P.T. Raja
Grafindo Persada.
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental
Phsychology. New Yuork : McGraw-Hill Book Company
Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan
Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.T. Remaja
Rosdakarya.
Sumadi Suryabrata. 1984. Psikologi
Kepribadian. Jakarta : Rajawali.
Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT Rosda Karya Remaja
Pola hubungan Orangtua-anak
Pola Hubungan Orangtua – Anak
Oleh : Azhari Jum’atullah
Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi perkembangan individu. Sejak kecil anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga. Dalam hal ini, peranan orang tua menjadi amat sentral dan sangat besar pengaruhnya bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara langsung maupun tidak langsung.Slater (Elizabeth Hurlock 1974:353) mengungkapkan tentang empat pola dasar relasi orang tua-anak yang bipolar beserta pengaruhnya terhadap kepribadian anak, yaitu :
1. tolerance-intolerance
Pengaruh yang mungkin dirasakan dari adanya sikap orang tua yang penuh toleransi, memungkinkan anak untuk dapat memiliki ego yang kuat. Sebaliknya, sikap tidak toleran cenderung akan menghasilkan ego yang lemah pada diri anak.
2. permissiveness – strictness
Relasi orang tua-anak yang permisif dapat membentuk menunjang proses pembentukan kontrol intelektual anak, namun sebaliknya kekerasan berdampak pada pembentukan pribadi anak yang impulsif.
3. involvement – detachment
Seorang anak cenderung akan menjadi ekstrovert, manakala orang tua dapat menunjukkan sikap mau terlibat dan peduli . Sebaliknya, sikap orang tua yang terlalu membiarkan berdampak terhadap pembentukan pribadi anak yang introvert.
4. warmth – coldness
Relasi orang tua-anak yang diwarnai kehangatan memungkinkan anak memiliki kemampuan untuk dapat melibatkan diri dengan lingkungan sosialnya. Sebaliknya, relasi orang tua-anak yang dingin akan menyebabkan anak senantiasa menarik diri dari lingkungan sosialnya. Sikap dan perlakuan orang tua yang toleran, permisif, turut terlibat dan penuh kehangatan merupakan manifestasi dari penerimaan orang tua terhadap anak. Sedangkan sikap dan perlakuan orang tua yang tidak toleran, keras, membiarkan dan dingin merupakan bentuk penolakan terhadap anak.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan harga diri anak, orang tua seyogyanya dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar bertanggung jawab dan menentukan dirinya sendiri. Di sini, orang tua hanya berperan sebagai fasilitator, yang berupaya untuk memberikan kesempatan yang luas kepada anak dalam meraih harga dirinya melalui pengembangan minat dan kecakapannya. Buss (1973) mengemukakan bahwa kasih sayang orang tua yang tulus (unconditional parental love) merupakan faktor penting yang dapat membentuk inti (core) dari harga diri anak. Berbagai studi yang dilakukan menunjukkan bahwa seorang anak menjadi anti demokratis, prejudice, dan memiliki sikap permusuhan dari adanya sikap perlakuan orang tua yang keras (Hoffman, 1960; Harris, Gough & Martin, 1950; Lyle & Levitt, 1955). Studi yang dilakukan Radke (1946) menunjukkan bahwa anak merasa sedih, kurang bahagia, dan merasa sakit dengan adanya perlakuan orang tua yang disertai hukuman fisik. Sementara itu, studi yang dilakukan Symonds (1939) menyimpulkan bahwa : “… accepted children engaged predominantly in society behaviors, whereas rejected children menifested a number unacceptable behaviors.
Langganan:
Postingan (Atom)
